Aku dengan kedua tanganku diatas kedua kakiku. Semua orang memandangku sebelah mata, seperti tak ada harga diri ini, sebagian diantaranya memaki, meludah bahkan ada yang menendang. Tapi sebagian kecil aku bisa merasakannya, mereka sama sepertiku, tapi saat ini ada lagi hanya seorang yang bisa menyadari tulus mengerti aku. Anehnya semua ini aku tau saat aku sendiri melamun. Biaanya ditemani sebatang lilin, bantal dan guling serta sepiring nasi dan hanya seorang yang selalu berada disampingku.
Suatu ketika sebuah kata berdengung, takdapat hilang ditelingaku begitu terekam. Aku benar-benar tak mengerti apa artinya. Kata itu sering diucapkan semua orang saat mereka menghampiriku. Aku bingung biasanya hanya seorang yang bias menterjemahkannya, tapi kali ini sebuah kata itu benar-benar tak dapat kupahami. Seperti hanya komat-kamit saat ia menjelaskannya untukku.
Hampir separuh malamku, sebelum terlelap kata itu hadir. Kali ini kata itu dating mengusikku dalam mimpi. Seperti menari-nari menunjukkan raut mukanya yang ganas, kontan aku terperanjat. Dan hanya seorang yang ada disampingku, dengan lembut menawarkan segelas air putih. Dengan sikapnya yang khas kembali ia benahi, tidur ini seperti nyata. Mimpi ini kembali tertata, nafas ini berangsur-angsur pelan, degub jantung ini kembali seirama dengan detak jarum jam di meja dekat tempat tidurku.
Kata itu hadir kembali, tapi aku sudah siap mengahadapinya. Kali ini kata itu takkan bisa menggangguku lagi. Aku tau kata itu ingin merebut sebagain hidup yang akan kujalani.
Mendadak seperti biasa mentari pagi memaksaku untuk segera menyambut kedatangannya. Aku butuh 5 menit untuk berdiri tegap memandangnya dan mempersilahkan sang mentari untuk segera masuk dan bersantai diruang depan. Aku juga termasuk orang yang setia selalu menjaga sang mentari ketika ia sedang duduk-duduk, terkadang mandi sejenak, bahkan ia juga sering mengguyurku seperti hanya seorang yang juga sering melakukannya padaku.
Aku sudah lama setia pada sang mentari, bahkan bulan depan kami sudah komitmen akan selalu bersama sehidup semati. Aku sudah jelaskan dan hanya seorang yang mengerti aku pun juga sudah mengerti dan menyetujuinya. Aku boleh bersamanya asal aku harus janji takkan meninggalkan hanya seorang yang mengerti aku sendiri.
Malam pertama, malam kedua, ketiga sampai ketujuh. Hanya seorang yang mengerti aku mulai meneteskan air mata. Aku tak mengerti apa artinya, tapi kali ini dia sambil memelukku. Aku hanya diam dan dia merebahkanku, memandangku dalam-dalam, sampai-sampai setetes air matanya jatuh kepipiku mengalir tepat dibibir ini. Aku bangun dan dia langsung mengusap setetes air matanya. Segera segelas air putih disodorkannya padaku. Tangan kananku seperti ingin memukul, kubanting gelas itu. Tak seperti biasa ia berdiri dan meninggalkanku.
Esok hari aku menyambut sang mentari agak terlambat. Aku tak berdiri tegap, aku masih bergumul bantal, guling dan selimut serta segelas air putih yang masih terisi penuh. Aku segera minta maaf pada sang mentari, karena keteledoranku. Tapi sang mentari marah padaku, biasa ia membasahiku dengan lembut, kali ini ia menyiramku dan seperti mencambukku. Lidahnya menjulur berwarna putih hampir membutakan kedua mataku. Tak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kali ini sang mentari benar-benar marah padaku. Aku tak tau apa yang harus kuperbuat, aku ingin berlindung. Aku berteriak minta tolong tapi tak ada yang mendengarku. Semua oranmg hanya berjalan menghampiriku dengan mengucap kata itu dan segera pergi.
Hati kecil ini mulai sadar, kemana hanya seorang yang mengerti aku itu pergi? Biasa dia segera hadir kalo-kalo aku sedang dalam kesulitan. Ini musibah, ini malapetaka, ini bisa merenggut hidupku. Tapi hanya seorang yang mengerti aku tak juga muncul. Aku panik, aku berlari, segera kupilih persembunyian, dan kutentukan dalam kegelapan biar aku tetap aman disana. Jantung ini seperti melambat, dan nafas ini… aku tak mengerti kenapa kegelapan tempat persembunyianku malah lebih membuatku takut.
Pintu keluarnya dijaga oleh dua orang yang belum pernah kukenal. Aneh! Siapa mereka? Aku semakin takut, hati kecil ini teringat pada seorang yang mengerti aku. Apatah dia tak merindukanku? Tak seperti biasa dia bersikap begini padaku. Aku semakin takut, semakin takut kupandangi kedua orang itu. Keduanya hanya berdiri, berdiri tegap, seperti saat aku setia pada sang mentari. Oh ya! Saat ini sang mentari ada dimana? Apatah marahnya sudah mereda? Aku jadi rindu dengannya. Tapi aku takut kalo-kalo sampai bertemu dengannya, ia masih marah padaku.
Kuputuskan tetap duduk. Duduk dikegelapan hanya dengan seberkas sinar yang baru kukenal saat pertama kali aku masuk dalam kegelapan ini. Aku bertanya pada diriku, sampai kapan aku mampu berada di tempat baruku ini? Aku memandangi kedua lelaki itu, mereka tetap berdiri tegap. Tapi kali ini seperti ada seorang yang memohon pada kedua lelaki itu. Seperti bersujud, air matanya menetes, menggenangi seperti ada sungai yang mengalir kearahku. Dan jatuh tepat dibibir ini. Aku kaget, langsung kutendang seberkas sinar baru itu, tapi tak jatuh, malah tersenyum padaku. Air mata ini seperti pernah kukenal aku malah bingung, tak tau apa yang harus aku lakukan. Biasa aku minta penjelasan pada hanya seorang yang mengerti aku, tapi dia tak disampingku kali ini. Aku semakin bingung. Kulihat kembali siapa yang mengangis dan bersujud didepan kedua lelaki itu. Aku semakin tertarik untuk mengetahuinya. Sepertinya hanya seorang yang mengerti aku yang pernah kukenal. Ya Allah! Aku baru sadar, benar dia orangnya yang kutunggu-tunggu, kuharap-harap segera menolongku. Aku berdiri dan berjalan kearahnya.
Dia kenakan bajunya untukku, mendandaniku, membuatku semakin cakep. Seperti orang-orang yang sering berkata itu. Kata keramat yang diucapkan setiap orang ketika menghampiriku. Kedua lelaki itu hanya diam memandang dan tetap berdiri tegap, ikut meneteskan air mata-pun tidak. Sekali lagi hanya memandang, sampai setiap yang dikenakan hanya seorang yang mengerti aku tak satupun tertinggal, melekat ditubuhnya. Semuanya ganti aku yang memakainya. Tapi… ya Allah! Kemana hanya seorang yang mengerti aku itu pergi, tiba-tiba menghilang meninggalkanku. Ya Allah kemanakah perginya? Aku belum sempat memeluknya.
Seberkas sinar baru itu segera mendekatiku. Kedua lelaki itu? Merekapun juga tak ada. Aku semakin penasaran. Kini hanya ada aku dan seberkar sinar baru itu, dengan gelap yang semakin membuatku tak berdaya. Tapi aneh, aku segera terlelap dan tertidur.
23:01 09/02/07