Pengumpan:
Tulisan
Komentar

seOrang heRo

Hero Siswanto adalah seorang pemuda yang begitu bodoh menginjakkan kakinya dibumi yang fana ini tanpa ada rasa sesal sedikitpun, ungkapnya. Hahahaha . . . masih ada orang seperti ini? Polos, orang mungkin menganggapnya gila, konyol, dengan pandangan hidup seperti itu bagaimana dirinya dapat mengalahkan dunia. Ah! Itu pertanyaan jauh lebih bodoh dari ungkapan seorang hero. Bumi dan dunia itu sangat jauh berbeda. Ahli bahasa mana yang mampu memaknai itu? Mungkin guru Bahasa Indonesia kesayanganku waktu di bangku SMP atau mungkin penulis gila yang kurang kerjaan. Ngelantur kamu! Memang sebenarnya apa yang ada didalam kepalamu itu? Orang kok punya gaya begitu aneh. Kamu itu manusia apa bukan sih? Pertanyaan apa lagi ini? Selama sejarah sekolah belum pernah ada yang seperti ini. Orang yang suka duduk adalah orang yang tidak suka berdiri. Orang yang suka berlapar-lapar diri adalah orang yang tidak gila harta. Ayahku yang bilang begitu! Wah . . . apalagi ini? Kamu kok semakin aneh, siapa sih namamu? Sekolah dimana? Asalmu darimana? Anak siapa? Ngomong-ngomong banyak sekali pertanyaan bapak. Ada yang lebih bagus dari itu? Atau yang lebih sederhana sajalah. Mungkin seperti, kalo boleh saya contohkan seperti ini : kamu sudah makan? Nah itu pertanyaan bagus yang seharusnya bapak utarakan. Walah! Kamu itu! Bisa saja. Yah bapak! Saya serius. Ya sudah kalo memang serius, kamu mau makan dimana? Dirumah bapak sajalah, kalo bapak tidak keberatan. Hehehe . . . maaf pak! Kamu bercanda ya? Ya sudah kamu yang bawa mobilnya. Bapak yang jadi navigatornya. Oalah pak kok jadi begini! Hehehe . . . mohon maaf Pak, saya bukan siapa-siapa. 07:10 masih pagi pak. Oh ya kamu antar dulu si Ana. Anaaaaa . . . (kurang lembut sedikit) Ana kamu berangkat sama hero. Hero setelah kamu anter Ana segera balik, bapak ada rapat jam 10 di Sheraton. Baik Pak. Sayaaang . . . Saaayang . . . ! Sayang ngomong dong! Kamu kelihatan cantik hari ini . . . Sayang jangan pegang itu, hehehe . . . Sayang jangan begitu ah! Kasihan dong aku. Sayaaang . . . Tanganmu halus . . . 08:20 udara pagi masih sejuk. Hero jangan lupa tas Bapak . . . Ada pesan dari bu Septi, jam 10:45 mau ketemu dengan rekan Bapak dari Bali kemaren. Oh! Ya sudah dari Sheraton kamu jemput Bu Septi, nanti biar Bapak naik Blue bird.

-untuk Om Bhudheng- Medan, 18 November 2008

penulis

Kurelakan sebagian malamku tersita oleh angan-angan, mimpi-mimpi dan harapan-harapan yang belum pasti.

Apa yang dirasakannya, tiada yang tau. Hanya sekilas pandangan yang sempat mengganggu hampir mengusik konsentrasinya. Akhirnya pensil itu patah, dan kembali harus diraut. Dengan pikiran mengandai-andai pergi entah kemana, berusaha tak kehilangan moment yang sempat mengibur.

Pensil itu pun sudah diraut. Siap kembali menari diatas sobekan kertas yang sudah tertata rapi, membentuk satu halaman. Tiba-tiba dia ingat, halamam semalam hampir selesai. Tapi dimana sobekan itu? Tulisan ini akan menjadi cerita yang panjang.

Feb 21, 2007

hati

hati
Aku yang selalu tersingkir, tak ada yang mau mengerti aku. Setiap hari yang tersisa hanya lamunan dan malam yang begitu sepi selalu dikelilingi mimpi, jadikan aku lupa akan arti hidup ini. Terkadang aku bingung, lelah, seperti tanpa jiwa. Orang mengatakan ‘keindahan’ itu terukir dari dalam hati, karena hati tidak pernah bohong. Padahal hati tidak bisa melihat seperti mata, hati tidak bisa merasa seperti lidah, hati tidak bisa meraba seperti tangan-tangan dan hati tidak bisa berkata-kata, hati tidak bisa medengar seperti telinga. Hati tak bisa apa-apa. Hati hanya bisa diam. Hati hanya bisa menyaksikan. Hati hanya bisa menyadari. Kalau hati adalah seperti debu yang tertiup angin terbang kemana arah hembusan, maka hati adalah tidak jauh dari udara. Hati juga bukan pasir, hati adalah segumpal darah. Pernah seorang Dahlan Iskhan, salah satu orang penting di Jawa Pos sempat mengganti hatinya, entah kenapa, mungkin gila. Tapi dengan begitu, ahli kesehatan mengatakan beliau akan mampu bertahan hidup selama beberapa waktu lebih lama jika dibanding apabila tidak melakukan penggantian hatinya yang selama hidup menemani dengan setia. Itu hati dari seorang Dahlan Iskhan. Sekarang hati yang ada di dalam tubuh ini . . .
Mengapa semua orang berdiri seperti mengenalku! Ini hati? benarkah ia yang berkata? Oh tidak! Harusnya kubuang jauh dan tak pernah ada perdebatan ini.
Mei, 18 2008

interogasi diri

senang bisa mengenalmu kembali

ge_i_el_a

Aku dengan kedua tanganku diatas kedua kakiku. Semua orang memandangku sebelah mata, seperti tak ada harga diri ini, sebagian diantaranya memaki, meludah bahkan ada yang menendang. Tapi sebagian kecil aku bisa merasakannya, mereka sama sepertiku, tapi saat ini ada lagi hanya seorang yang bisa menyadari tulus mengerti aku. Anehnya semua ini aku tau saat aku sendiri melamun. Biaanya ditemani sebatang lilin, bantal dan guling serta sepiring nasi dan hanya seorang yang selalu berada disampingku.

Suatu ketika sebuah kata berdengung, takdapat hilang ditelingaku begitu terekam. Aku benar-benar tak mengerti apa artinya. Kata itu sering diucapkan semua orang saat mereka menghampiriku. Aku bingung biasanya hanya seorang yang bias menterjemahkannya, tapi kali ini sebuah kata itu benar-benar tak dapat kupahami. Seperti hanya komat-kamit saat ia menjelaskannya untukku.

Hampir separuh malamku, sebelum terlelap kata itu hadir. Kali ini kata itu dating mengusikku dalam mimpi. Seperti menari-nari menunjukkan raut mukanya yang ganas, kontan aku terperanjat. Dan hanya seorang yang ada disampingku, dengan lembut menawarkan segelas air putih. Dengan sikapnya yang khas kembali ia benahi, tidur ini seperti nyata. Mimpi ini kembali tertata, nafas ini berangsur-angsur pelan, degub jantung ini kembali seirama dengan detak jarum jam di meja dekat tempat tidurku.

Kata itu hadir kembali, tapi aku sudah siap mengahadapinya. Kali ini kata itu takkan bisa menggangguku lagi. Aku tau kata itu ingin merebut sebagain hidup yang akan kujalani.

 

Mendadak seperti biasa mentari pagi memaksaku untuk segera menyambut kedatangannya. Aku butuh 5 menit untuk berdiri tegap memandangnya dan mempersilahkan sang mentari untuk segera masuk dan bersantai diruang depan. Aku juga termasuk orang yang setia selalu menjaga sang mentari ketika ia sedang duduk-duduk, terkadang mandi sejenak, bahkan ia juga sering mengguyurku seperti hanya seorang yang juga sering melakukannya padaku.

Aku sudah lama setia pada sang mentari, bahkan bulan depan kami sudah komitmen akan selalu bersama sehidup semati. Aku sudah jelaskan dan hanya seorang yang mengerti aku pun juga sudah mengerti dan menyetujuinya. Aku boleh bersamanya asal aku harus janji takkan meninggalkan hanya seorang yang mengerti aku sendiri.

Malam pertama, malam kedua, ketiga sampai ketujuh. Hanya seorang yang mengerti aku mulai meneteskan air mata. Aku tak mengerti apa artinya, tapi kali ini dia sambil memelukku. Aku hanya diam dan dia merebahkanku, memandangku dalam-dalam, sampai-sampai setetes air matanya jatuh kepipiku mengalir tepat dibibir ini. Aku bangun dan dia langsung mengusap setetes air matanya. Segera segelas air putih disodorkannya padaku. Tangan kananku seperti ingin memukul, kubanting gelas itu. Tak seperti biasa ia berdiri dan meninggalkanku.

Esok hari aku menyambut sang mentari agak terlambat. Aku tak berdiri tegap, aku masih bergumul bantal, guling dan selimut serta segelas air putih yang masih terisi penuh. Aku segera minta maaf pada sang mentari, karena keteledoranku. Tapi sang mentari marah padaku, biasa ia membasahiku dengan lembut, kali ini ia menyiramku dan seperti mencambukku. Lidahnya menjulur berwarna putih hampir membutakan kedua mataku. Tak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kali ini sang mentari benar-benar marah padaku. Aku tak tau apa yang harus kuperbuat, aku ingin berlindung. Aku berteriak minta tolong tapi tak ada yang mendengarku. Semua oranmg hanya berjalan menghampiriku dengan mengucap kata itu dan segera pergi.

Hati kecil ini mulai sadar, kemana hanya seorang yang mengerti aku itu pergi? Biasa dia segera hadir kalo-kalo aku sedang dalam kesulitan. Ini musibah, ini malapetaka, ini bisa merenggut hidupku. Tapi hanya seorang yang mengerti aku tak juga muncul. Aku panik, aku berlari, segera kupilih persembunyian, dan kutentukan dalam kegelapan biar aku tetap aman disana. Jantung ini seperti melambat, dan nafas ini… aku tak mengerti kenapa kegelapan tempat persembunyianku malah lebih membuatku takut.

Pintu keluarnya dijaga oleh dua orang yang belum pernah kukenal. Aneh! Siapa mereka? Aku semakin takut, hati kecil ini teringat pada seorang yang mengerti aku. Apatah dia tak merindukanku? Tak seperti biasa dia bersikap begini padaku. Aku semakin takut, semakin takut kupandangi kedua orang itu. Keduanya hanya berdiri, berdiri tegap, seperti saat aku setia pada sang mentari. Oh ya! Saat ini sang mentari ada dimana? Apatah marahnya sudah mereda? Aku jadi rindu dengannya. Tapi aku takut kalo-kalo sampai bertemu dengannya, ia masih marah padaku.

Kuputuskan tetap duduk. Duduk dikegelapan hanya dengan seberkas sinar yang baru kukenal saat pertama kali aku masuk dalam kegelapan ini. Aku bertanya pada diriku, sampai kapan aku mampu berada di tempat baruku ini? Aku memandangi kedua lelaki itu, mereka tetap berdiri tegap. Tapi kali ini seperti ada seorang yang memohon pada kedua lelaki itu. Seperti bersujud, air matanya menetes, menggenangi seperti ada sungai yang mengalir kearahku. Dan jatuh tepat dibibir ini. Aku kaget, langsung kutendang seberkas sinar baru itu, tapi tak jatuh, malah tersenyum padaku. Air mata ini seperti pernah kukenal aku malah bingung, tak tau apa yang harus aku lakukan. Biasa aku minta penjelasan pada hanya seorang yang mengerti aku, tapi dia tak disampingku kali ini. Aku semakin bingung. Kulihat kembali siapa yang mengangis dan bersujud didepan kedua lelaki itu. Aku semakin tertarik untuk mengetahuinya. Sepertinya hanya seorang yang mengerti aku yang pernah kukenal. Ya Allah! Aku baru sadar, benar dia orangnya yang kutunggu-tunggu, kuharap-harap segera menolongku. Aku berdiri dan berjalan kearahnya.

Dia kenakan bajunya untukku, mendandaniku, membuatku semakin  cakep. Seperti orang-orang yang sering berkata itu. Kata keramat yang diucapkan setiap orang ketika menghampiriku. Kedua lelaki itu hanya diam memandang dan tetap berdiri tegap, ikut meneteskan air mata-pun tidak. Sekali lagi hanya memandang, sampai setiap yang dikenakan hanya seorang yang mengerti aku tak satupun tertinggal, melekat ditubuhnya. Semuanya ganti aku yang memakainya. Tapi… ya Allah! Kemana hanya seorang yang mengerti aku itu pergi, tiba-tiba menghilang meninggalkanku. Ya Allah kemanakah perginya? Aku belum sempat memeluknya.

Seberkas sinar baru itu segera mendekatiku. Kedua lelaki itu? Merekapun juga tak ada. Aku semakin penasaran. Kini hanya ada aku dan seberkar sinar baru itu, dengan gelap yang semakin membuatku tak berdaya. Tapi aneh, aku segera terlelap dan tertidur.

23:01 09/02/07

setetes embun

Aku harus menjernihkan setetes embun sebelum ia terjatuh dari ujung daun. Sementara dalam diam memandang, stetes embun seperti melamun. Aku mencari akal bagaimana caraku untuk membuatnya tetap berada diujung daun, tetap dengan jernihnya dan dengan lamunannya.

Tiba-tiba setetes embun seperti ingin marah, aku terdiam sementara daun-daun tersenyum, kupu kupu terbang entah kemana, belalang malam satu-satu mulai berhenti mendendangkan nyanyian malam dan mentari mulai mengintip seolah ingin mendamaikan.

Hati ini serasa ada yang aneh! “Setetes embun menantanngku?” Ia seperti ingin menyuarakan kalimat-kalimat yang sudah tertata sepanjang malam, dalam kesendirian dengan dinginn yang mungkin hampir membuatnya beku. Sementara satu-satu kejanggalan muncul, kunang kunang datang seperti ingin memberi isyarat sesuatu. Aku mengerutkan dahiku, mencoba mengerti isyarat apa yang akan disampaikan. Kunang kunang hanya berkedip-kedip seolah ia benar-benar tau keadaan yang sedang terjadi antara aku dan setetes embun.

Setetes embun mulai geram. Aku hanya memandang, dalam-dalam aku memandangnya. Aku berusaha mengerti untuk tahu sebab apa yang sampai membuatnya seperti itu. Setetes embun mulai memaki-maki seperti hampir habis emosinya, setets embun mulai kehilangan akal sehatnya tangan-tangannya menggapai langit bercengkrama dengan awan melawan kodratnya. Aku hanya bisa diam memandangnya, mentaripun semakin ingin tau mulai mendekat. Setetes embun tetap pada pendiriannya.

Kini semilir angin juga ikut menyapa, ia mengibaskan sayapnya membelai seraut wajah yang penuh amarah. Tangan-tangannya basah semilir angin enggan menginjakkan mondar-mandir seperti mengejek. Setetes embun makin geram diraihnya kaki langit seolah ingin menendangnya. Semilir angin tertawa dan berkata “Hai setetes embun seharusnya engkau bertanya dulu pada sang pengembara sebelum kau benar-benar ingin melawanku!”

Kupu kupu datang mendekati setetes embun, hinggap diranting sebelah ujung daun, hanya diam dan mengepakkan sayapnya yang cantik perlahan-lahan. Setetes embun makin menjadi-jadi, membabi buta diterikkannya kata-kata yang penuh amarah hingga menggetarkan ujung daun. Kupu-kupu terjatuh, menangis air matanya menetes, sayapnya patah. Kupu kupu merintih kesakitan. Semilir angin segera turun memeriksa keadaan kupu kupu yang malang.

Mentari tercengang mellihat itu semua, segera turun tak tau apa maksudnya. Tapi sebelum mentari menginjakkan kakinya sang pengembara tiba-tiba berteriak melarangnya.” Jangan kau berpindah dari persinggahanmu, biarlah yang disini terjadi dan berlalu sebagaimana mestinya. Kau tetaplah menyinari kami dari tempat persinggahanmu, tak perlu kau ikut menyelesaikan apa yang terjadi disini.” Tapi setetes embun segera menghampiri sang pengembara, tangan-tangannya menampar, sang pengembara diam saja, tersenyum. Tangan-tangan setetes embun kembali dan sekarang malah memukulnya. Sang pengembara tetap tersenyum, hanya diam walau bibir mulai mengucur darah. Setetes embun merasa apa yang telah dilakukannya sia-sia, kaki-kakinya lemas tangan-tangannya seperti tak mampu bergerak lagi, bahkan untuk berpindah kembali keujung daun. Setetes embun mulai menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya, sementara kehabisan tenaga setetes embun tak mampu berbuat apa-apa, akhirnya terjatuh. Tapi sebelum terjerembab ke tanah sang pengembara segera menggapainya, dengan tangannya yang lembut dengan bibir yang masih mengucur darah.

Kupu-kupu, semilir angin, sang mentari, kumbang malam, kunang-kunang dan ujung daun serta semua yang menyaksikan seperti ingin menentang sikap sang pengembara.

Ulat daun mendekat, dia berjalan keujung daun dan berkata, “Sungguh kau begitu bijaksana wahai sang pengembara. Aku yang menyaksikan kejadian ini hampir setiap pagi, ketika mentari mulai tersenyum maka terpaksa setetes embun harus lenyap.”

Semilir angin juga mendekat. “Itu sudah menjadi kodrat setetes embun wahai sang pengembara!”

“Ya aku tau! Sekarang bagaimana keadaamu setetes embun, apa kau masih ingin merubah kodratmu?”

“Wahai sang pengembara aku yakin engkau orang bijak yang dikirim untuk menolongku, aku pasrah, aku menerima apapun yang akan engkau perbuat kepadaku.”

Sang pengembara segera meminumnya. “Kau akan tetap ada dengan mengalir disetiap darahku, kau akan tetap hidup merasakan apa yang kuarasakan!” Dan awan menghampiri semua yang hadir, membelai, mengelus, mencumbu hingga semua basah dan terlahirlah setetes embun yang baru, suci indah abadi. 

senin

Semalam aku bermimpi, kita bertemu dan kupegang tanganmu, tapi aneh rasanya seperti baru pertama kali kita berkenalan. Akhirnya ngobrol sebentar, sedikit tersenyum dan seperti biasa, aku memanggilmu “Sayang!”

Terus apakah itu artinya aku rindu kamu?!

Bagaimana denganmu?

Saat aku terbangun pukul 04.45 langsung minum, ambil air wudhlu kemudian sholat subuh, lalu tidur lagi dan kutulis kembali cerita itu.

Tapi sungguh bodoh jika itu sampai terjadi.

-untuk lina-

cemara

Cemara tertunduk tapi tak melamun. Wajahnya tak dapat kulukiskan, seperti menyimpan cerita yang ingin diperdengarkan. Semakin dekat kududuk disampingnya. Aku ingin tau kenapa seraut wajah itu seperti begitu menyimpan misteri. Lebih dekat kucoba ikut merasakannya, hanya diam tak berkata-kata. Kuberanikan menyapa, seperti terusik, tapi menetes air matanya. “Apa yang sedang terjadi denganmu sayang?”

Seperti mengigau sepanjang malam. Malam ini menyisahkan mimpi yang begitu menakutkan baginya.

-untuk yang terdiam memandangku- maret 23, 2007

 

 

 

 

 

siput kecil

Hari ini ombak begitu indah, burung-burung saling bercumbu, perahu-perahu mulai merapat. Siput kecil bertanya kepadaku.

“Apa yang kau lihat? Kau memandangku!”

“Aku suka senyummu!” siput kecil tersipu malu. Kupegang tangannya, aku segera mencumbunya seperti burung-burung itu.Beberapa detik, aku tau dia sangat menikmatinya.

Oh tidak! Dia melepaskan tangannya dan segera berdiri, berlari, aku ?! aku terdiam, aku kaget. Apa artinya? Beberapa meter dia berhenti dibibir pantai, berbalik, dia memandangku melambaikan tangannya.

Ayo cepat kemari! Berenang yuk?” terdengar sayup-sayup merdu suaranya, aku tercengang, siput kecil menceburkan dirinya seketika itu basah tubuhnya. Dia berlari kearahku, memegang tanganku, menarikku, mengajakku. Aku segera berdiri, dalam hati ada rasa senang ada rasa sayang ada rasa semakin cinta ada sedikit rasa penuh nafsu. Melihat tubuhnya yang basah sungguh cantik seksi. Seperti takut kehilangan aku, tangannya begitu erat menggenggam. Kami berenang bersama, sesekali disapu ombak genggaman tangannya hampir terlepas. Tapi tidak! Aku segera meraih tubuhnya karena aku takut dia tenggelam.Dia menatapku, dia menciumku dibibir ini! Seperti burung-burung itu dan segera melepaskan tangannya. Dia berenang kepantai, berlari. Aku segera mengikutinya, mengejarnya, kembali bisa menangkapnya. Kulingkarkan kedua tanganku dipinggangnya.“ Ayo kau tak akan bisa lari dariku aku sudah menangkapmu!” Dia membalikkan badannya, melingkarkan kedua tangannya keleherku dan mencimku, ciuman yang ketiga kalinya. Tangannya ?! Dia menjorokkanku, mendorong dadaku dengan kedua tangannya. Akupun terjatuh, dia berlari pantai.Aku terduduk! Sekali lagi aku memandang tubuh yang basah. Dia begitu cantik! Aku tetap duduk, untuk yang kedua kali ia melambaikan tangannya, seperti memanggilku! Aku tetap duduk dan tetap memandangnya, hanya diam! Dia berlari kearahku, begitu dekat aku segera beranjak berlari. Dia mengejarku! Semakin cepat aku berlari, sesekali melihat kearahnya. Siput kecil berhenti. “Sayang aku tak bisa mengejarmu!” teriakannya terdengar lemas. Aku segera berhenti. Dia berjalan kearahku saat lebih dekat kedua tangannya menggenggam tanganku. Dia berlari memutar. “Sayang berhentilah kau akan pusing kalau tak segera berhenti!”

“Sayang apa kau menikmati hari ini?” teriak siput kecil.

“Ya aku senang sekali, sangat menikmatinya, aku akan selalu mengenang kebersamaan kita hari ini!”

“Selaluu?”

“Ya selalu! Tapi berhentilah kau akan pusing.”

“Tidak! Aku tak akan berhenti kalau tak kau hentikan langkah ini!” Oh tidak! Aku menarik tangannya, segera mendekapnya, memeluknya.

“Sayang I love you!”

“Apaa ?” dia berteriak.

“Sayang I love you !” lebih keras.

“Apaa ? Aku nggak dengar!”

“I love youuu !” keras sekali.

“I love you to!” dengan lembutnya.

Akhirnya yang keempat kalinya dia menciumku dibibir ini! Tapi kali ini lebih lama dan begitu lama. Burung-burungpun seperti begitu kagum! Rekor mencium paling lama telah dipecahkan.

Malam ini begitu sepi, siput kecil dia datang menggangguku. Seperti mimpi! Oh tidak! Aku sedang berhayal? Tapi bibir ini sudah basah dengan bibirnya.

untuk fenti, Jakarta, April 2006 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.