Hari ini ombak begitu indah, burung-burung saling bercumbu, perahu-perahu mulai merapat. Siput kecil bertanya kepadaku.
“Apa yang kau lihat? Kau memandangku!”
“Aku suka senyummu!” siput kecil tersipu malu. Kupegang tangannya, aku segera mencumbunya seperti burung-burung itu.Beberapa detik, aku tau dia sangat menikmatinya.
Oh tidak! Dia melepaskan tangannya dan segera berdiri, berlari, aku ?! aku terdiam, aku kaget. Apa artinya? Beberapa meter dia berhenti dibibir pantai, berbalik, dia memandangku melambaikan tangannya.
“Ayo cepat kemari! Berenang yuk?” terdengar sayup-sayup merdu suaranya, aku tercengang, siput kecil menceburkan dirinya seketika itu basah tubuhnya. Dia berlari kearahku, memegang tanganku, menarikku, mengajakku. Aku segera berdiri, dalam hati ada rasa senang ada rasa sayang ada rasa semakin cinta ada sedikit rasa penuh nafsu. Melihat tubuhnya yang basah sungguh cantik seksi. Seperti takut kehilangan aku, tangannya begitu erat menggenggam. Kami berenang bersama, sesekali disapu ombak genggaman tangannya hampir terlepas. Tapi tidak! Aku segera meraih tubuhnya karena aku takut dia tenggelam.Dia menatapku, dia menciumku dibibir ini! Seperti burung-burung itu dan segera melepaskan tangannya. Dia berenang kepantai, berlari. Aku segera mengikutinya, mengejarnya, kembali bisa menangkapnya. Kulingkarkan kedua tanganku dipinggangnya.“ Ayo kau tak akan bisa lari dariku aku sudah menangkapmu!” Dia membalikkan badannya, melingkarkan kedua tangannya keleherku dan mencimku, ciuman yang ketiga kalinya. Tangannya ?! Dia menjorokkanku, mendorong dadaku dengan kedua tangannya. Akupun terjatuh, dia berlari pantai.Aku terduduk! Sekali lagi aku memandang tubuh yang basah. Dia begitu cantik! Aku tetap duduk, untuk yang kedua kali ia melambaikan tangannya, seperti memanggilku! Aku tetap duduk dan tetap memandangnya, hanya diam! Dia berlari kearahku, begitu dekat aku segera beranjak berlari. Dia mengejarku! Semakin cepat aku berlari, sesekali melihat kearahnya. Siput kecil berhenti. “Sayang aku tak bisa mengejarmu!” teriakannya terdengar lemas. Aku segera berhenti. Dia berjalan kearahku saat lebih dekat kedua tangannya menggenggam tanganku. Dia berlari memutar. “Sayang berhentilah kau akan pusing kalau tak segera berhenti!”
“Sayang apa kau menikmati hari ini?” teriak siput kecil.
“Ya aku senang sekali, sangat menikmatinya, aku akan selalu mengenang kebersamaan kita hari ini!”
“Selaluu?”
“Ya selalu! Tapi berhentilah kau akan pusing.”
“Tidak! Aku tak akan berhenti kalau tak kau hentikan langkah ini!” Oh tidak! Aku menarik tangannya, segera mendekapnya, memeluknya.
“Sayang I love you!”
“Apaa ?” dia berteriak.
“Sayang I love you !” lebih keras.
“Apaa ? Aku nggak dengar!”
“I love youuu !” keras sekali.
“I love you to!” dengan lembutnya.
Akhirnya yang keempat kalinya dia menciumku dibibir ini! Tapi kali ini lebih lama dan begitu lama. Burung-burungpun seperti begitu kagum! Rekor mencium paling lama telah dipecahkan.
Malam ini begitu sepi, siput kecil dia datang menggangguku. Seperti mimpi! Oh tidak! Aku sedang berhayal? Tapi bibir ini sudah basah dengan bibirnya.
untuk fenti, Jakarta, April 2006