Aku harus menjernihkan setetes embun sebelum ia terjatuh dari ujung daun. Sementara dalam diam memandang, stetes embun seperti melamun. Aku mencari akal bagaimana caraku untuk membuatnya tetap berada diujung daun, tetap dengan jernihnya dan dengan lamunannya.
Tiba-tiba setetes embun seperti ingin marah, aku terdiam sementara daun-daun tersenyum, kupu kupu terbang entah kemana, belalang malam satu-satu mulai berhenti mendendangkan nyanyian malam dan mentari mulai mengintip seolah ingin mendamaikan.
Hati ini serasa ada yang aneh! “Setetes embun menantanngku?” Ia seperti ingin menyuarakan kalimat-kalimat yang sudah tertata sepanjang malam, dalam kesendirian dengan dinginn yang mungkin hampir membuatnya beku. Sementara satu-satu kejanggalan muncul, kunang kunang datang seperti ingin memberi isyarat sesuatu. Aku mengerutkan dahiku, mencoba mengerti isyarat apa yang akan disampaikan. Kunang kunang hanya berkedip-kedip seolah ia benar-benar tau keadaan yang sedang terjadi antara aku dan setetes embun.
Setetes embun mulai geram. Aku hanya memandang, dalam-dalam aku memandangnya. Aku berusaha mengerti untuk tahu sebab apa yang sampai membuatnya seperti itu. Setetes embun mulai memaki-maki seperti hampir habis emosinya, setets embun mulai kehilangan akal sehatnya tangan-tangannya menggapai langit bercengkrama dengan awan melawan kodratnya. Aku hanya bisa diam memandangnya, mentaripun semakin ingin tau mulai mendekat. Setetes embun tetap pada pendiriannya.
Kini semilir angin juga ikut menyapa, ia mengibaskan sayapnya membelai seraut wajah yang penuh amarah. Tangan-tangannya basah semilir angin enggan menginjakkan mondar-mandir seperti mengejek. Setetes embun makin geram diraihnya kaki langit seolah ingin menendangnya. Semilir angin tertawa dan berkata “Hai setetes embun seharusnya engkau bertanya dulu pada sang pengembara sebelum kau benar-benar ingin melawanku!”
Kupu kupu datang mendekati setetes embun, hinggap diranting sebelah ujung daun, hanya diam dan mengepakkan sayapnya yang cantik perlahan-lahan. Setetes embun makin menjadi-jadi, membabi buta diterikkannya kata-kata yang penuh amarah hingga menggetarkan ujung daun. Kupu-kupu terjatuh, menangis air matanya menetes, sayapnya patah. Kupu kupu merintih kesakitan. Semilir angin segera turun memeriksa keadaan kupu kupu yang malang.
Mentari tercengang mellihat itu semua, segera turun tak tau apa maksudnya. Tapi sebelum mentari menginjakkan kakinya sang pengembara tiba-tiba berteriak melarangnya.” Jangan kau berpindah dari persinggahanmu, biarlah yang disini terjadi dan berlalu sebagaimana mestinya. Kau tetaplah menyinari kami dari tempat persinggahanmu, tak perlu kau ikut menyelesaikan apa yang terjadi disini.” Tapi setetes embun segera menghampiri sang pengembara, tangan-tangannya menampar, sang pengembara diam saja, tersenyum. Tangan-tangan setetes embun kembali dan sekarang malah memukulnya. Sang pengembara tetap tersenyum, hanya diam walau bibir mulai mengucur darah. Setetes embun merasa apa yang telah dilakukannya sia-sia, kaki-kakinya lemas tangan-tangannya seperti tak mampu bergerak lagi, bahkan untuk berpindah kembali keujung daun. Setetes embun mulai menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya, sementara kehabisan tenaga setetes embun tak mampu berbuat apa-apa, akhirnya terjatuh. Tapi sebelum terjerembab ke tanah sang pengembara segera menggapainya, dengan tangannya yang lembut dengan bibir yang masih mengucur darah.
Kupu-kupu, semilir angin, sang mentari, kumbang malam, kunang-kunang dan ujung daun serta semua yang menyaksikan seperti ingin menentang sikap sang pengembara.
Ulat daun mendekat, dia berjalan keujung daun dan berkata, “Sungguh kau begitu bijaksana wahai sang pengembara. Aku yang menyaksikan kejadian ini hampir setiap pagi, ketika mentari mulai tersenyum maka terpaksa setetes embun harus lenyap.”
Semilir angin juga mendekat. “Itu sudah menjadi kodrat setetes embun wahai sang pengembara!”
“Ya aku tau! Sekarang bagaimana keadaamu setetes embun, apa kau masih ingin merubah kodratmu?”
“Wahai sang pengembara aku yakin engkau orang bijak yang dikirim untuk menolongku, aku pasrah, aku menerima apapun yang akan engkau perbuat kepadaku.”
Sang pengembara segera meminumnya. “Kau akan tetap ada dengan mengalir disetiap darahku, kau akan tetap hidup merasakan apa yang kuarasakan!” Dan awan menghampiri semua yang hadir, membelai, mengelus, mencumbu hingga semua basah dan terlahirlah setetes embun yang baru, suci indah abadi.